Selasa, 25 Juni 2013


“Kisah Cinta yang Tidak Biasa, Kontroversial, serta Adanya Pertentangan Nilai Moral Dan Sosial.

Judul       : Supernova (Ksatria, putri, dan Bintang Jatuh)
Penulis    : Dewi Lestari Mangunsong (Dee)
Penerbit  : Bentang 2012
Halaman : 316 halaman.
Harga     : 53.000,-

Novel yang di tulis oleh Dewi Lestari (lebih akrab di panggil Dee), mengisahkan dua sosok pria yang mempunyai penyimpangan sifat (gay atau homo) yang sudah mereka jalani selama 10 tahun. Nama mereka yaitu Dimas dan Ruben. Meski mereka sepasang anak gay namun mereka mempunyai ikatan janji pada tahun ke sepuluh dalam hubungan mereka yang sungguh luar biasa. Ikatan tersebut yaitu mereka akan membuat roman sains yang romantis dan puitis terletak pada halaman 12, “ Sepuluh tahun dari sekarang, saya harus membuat satu karya. Satu masterpiece. Satu tulisan atau riset yang membantu menjembatani semua percabangan sains”. Kata ruben. Dhimas menjawab, “ Fine. Sepuluh tahun buatmu, sepuluh tahun juga buatku. Satu masterpiece. Roman sastra berdimensi luas yang mampu menggerakkan hati banyak orang.” Lebih lengkapnya tentang tokoh di dalam novel tersebut adalah Dimas dan Ruben.  Dimas merupakan sebuah mahasiswa lulusan dari George Washington University, serta dia merupakan geng orang kaya dari mahasiswa Indonesia atau anak yang berlebih harta. Sedangkan Ruben mahasiswa dari lulusan dari John Hopskins Medical School, dia termasuk dalam geng dari anak beasiswa yang tidak berbaur harta serta hanya bergaul dengan buku-buku. Tetapi, meski mereka kuliah tinngi dalam Universitas yang bagus di luar negeri, tetapi tidak menyurutkan mereka anak yang normal seperti mahasiswa pada umumnya menyukai lawan jenis.
Tepat sepuluh tahun sudah dari ikatan janji mereka, memulailah mereka menulis tentang gambaran seorang pria yang tampan, kaya, kerja kantoran, jabatan tinggi, menarik, dan produktif.  Tokoh pria tersebut bernama Ferre atau sering di panggil Re. Dia begitu menarik serta diidolakan oleh kaum hawa yang mengetahuinya. Pada suatu hari datanglah wartawati dari tabloid kupu-kupu. Wanita tersebut bernama Rana dan telah bersuamikan Arwin. Rana mencoba mewawancarai Re dengan rasa gugup. Di balik kegugupan Rana tersimpan rasa tertarik kepada Re. Lama kelamaan Rana mulai sadar bahwa dia tertarik terhadap ketampanan pemuda tersebut. Bukan hanya tampak yang Re kagumi tetapi juga tutur katanya yang begitu sopan terhadap semua orang. Rasa suka ternyata tidak hanya terasa dalam hati Rana, melainkan Re juga merasa suka terhadap Rana. Rasa sukanya tertulis sebuah puisi dalam carikan kertas yang di tujukan oleh Rana. Terletak dihalaman 25.
Putri,
Kembalilah ke puri ini,
Satu semeta mungil yang mampu melumat bumi
Kalau aku mau membetangkannya.
Inilah nirwana yang mampu menampung perasaan kita.
Bumi punya langit sebagai jendela terhadap galaksi mahaluas
Yang Berjaya dalam misteri.
Jendelaku adalah carik-carik kertas…..
Berisi daftar pertanyaan tentang dunia
Yang takkan habis dimengerti.
Bumi menggetarkan nyali dengan palung-palung dalam.
Aku cuma punya beberapa piringan hitam…..
Laut pribadiku yang didalamnya selalu ada kamu,
dan kamu lagi,
Samudera kata terbelit music dan diudarai kenangan.
Di dalamnya aku bisa berenang selama ikan.
Bumi adalah sebuah kumparan besar
yang melingkarkan semua makhluk dalam kefanaannya.
Melingkarkan engkau dan aku.

Setelah agak lama keduanya saling tertarik dan menjalin hubungan terlarang antara seorang wanita yang telah bersuami dan pria lajang. Anehnya, Arwin tidak sedikitpun menaruh rasa curiga kepada Rana. Tetapi hubungan tersebut tidak bertahan secara lama setelah Arwin memberikan harapan bahwa akan membahagiakan Rana. Akhirnya Ferre pun merasakan patah hati dan ada sedikit dari benak Re akan bunuh diri, namun semua itu gagal sebab ada seorang wanita yang bernama Diva yang akan menyelamatkan  kepuasannya. Diva seorang wanita yang cantik, kaya, mapan, dan mempunyai pemikiran yang luas. Dan hanya pria yang berkantong tebal pun yang menjadi pelanggannya. Tak di sangka Diva adalah tetangga seberang rumah Ferre.
Dari kedua novel yang saya baca (supernova dan bidadari-bidadari surga)  sama-sama menceritakan tentang perjalanan cinta. Seperti halnya pada supernova Dimas dengan Ruben yang sama-sama mencintai tanpa melihat mereka sesama jenis. Hal lain yang bisa di lihat pada perjalanan kisah Re dan Rana meski berujung tidak dapat bersatu. Sedangkan pada bidadari-bidadari surga kisah cinta seorang kakak bernama Laisa yang ingin menikmati sebuah namanya cinta tetapi tidak dapat merasakan hingga akhir hayatnya. Semua itu bukan keinginannya tetapi sebuah pengorbanan cinta seorang kakak terdadap adik-adiknya. Sungguh kakak yang sangat mulia.
Menurut saya cerita supernova dapat dikatakan sebagai cerita yang unik, sebab terkadang cerita ini masih masih tabu dianggap oleh masyarakat serta diceritakan dengan unik oleh Dee. Maka dari situlah kelebihan yang dimiliki oleh Dee sebagai penulis dari para pakar karya sastra dari penulis novel yang lain. Karena, para pakar sastra melihat Supernova merupakan karya sastra yang layak untuk diperbincangkan serta dinikmati karena menagandung karya sastra yang sangat enarik untuk diperbincangkan oleh masyarakat yang suka terhadap karya-karya sastra.
Kata sains yang terdapat dalam novel tersebut sungguhlah menarik karena menjadi keunikan tersendiri untuk novel supernova dan menjadikan asupan pengetahuan baru. Namun, kata sains tersebut bisa menjadi kendala untuk pembaca awam yang ingin membaca tetapi tidak mengetahui istilah sains didalamnya. Serta novel ini juga dikatakan sebagai novel Fiksi Indonesia terbaik. Dikatakan sebagai novel terbaik karena dapat memadukan unsure sains dengan keromantisan. Terdapat sebuah puisi tentang cita-cita di waktu kecil Re yang terdapat pada halaman 35 dengan judul kesatria jatuh cinta pada putri bungsu.
Berbeda dengan novel bidadari-bidadari surga yang di tulis oleh Tere-liye bahasanya menggunakan kata-katanya yang mudah dimengerti serta biasanya membius pembaca sehingga pembaca dapat mengalir dalam suasana novel tersebut. Suasana haru turut saya rasakan ketika membaca novel ini, tidak terasa air mata membasahi pipiku dalam membacanya. Keharuan tersebut benar-benar saya rasakan ketika badan Laisa mulai tak berdaya, kesehatannya pun semakin menurun. Cerita tersebut terletak dihalaman 357-361. “ Dali... di mana Dali-“ Kak Laisa lemah memanggil Dalimunte. Ia ingin semua ada di sampingnya sekarang. “Ikanuri.. Wibisana... Di mana dua singung itu?” Kak Laisa berusa tertawa kecil, meski itu sama saja keluarnya bercak darah yang lebih banyak. “Ikanuri di sini kak.”Ikanuri duduk di sebelah Dalimunte. “Intan.. Juwita.. Delima..” serta ucapan yang di tuturkan oleh Kak Laisa tentang terimakasih terhadap Allah. “Ya Allah, terima kasih atas segalanya.. Terima kasih... “ Kak Laisa mendesah pelan.. “Ya Allah, Lais sunnguh ikhlas dengan segala keterbatasan ini, dengan segala takdirmu... Karena, karena kau menggantinya dengan adik-adik yang baik... “ dan ucapan yang dituturkan oleh Laisa untuk Yashinta menikah yang lima menit kemudian pernikahan itu dilangsungkan. Ketika Mamak mencium kening bungsunya memberikan kecupan selamat. Saat yang lain buncah oleh perasaan entahlah. Semua perasaan ini.. Saat itulah cahaya indah mempesona itu turun membungkus lembah. Sekali lagi, seperti sejuta pelangi jika kalian bisa melihatnya. Di sambut lenguhan penguasa Gunung Kendeng yang terdengar di kejauhan. Telapak elang yang melengking sedih. Sungguh novel yang menyayat hati pembacanya dengan cerita perjuangan oleh seorang Laisa dengan kerja keras, ketulusan, dan kasih sayang yang besar.
            Penokohan yang dilakukan Dee sangat kuat untuk novel fiksi. Serta sifat yang terdapat dalam setiap karakternya pun jelas dan alur ceritanya yang tidak berbelit-belit.  Tetapi jangan sekali-sekali bagi pembaca yang belum mengenal pasti tentang kata-kata sains membacanya. Jika belum memahami kata sains maka pembaca akan menglami kendala yang cukup rumit. Pembacanya sebaiknya adalah remaja yang telah cukup umur. Sebab kata yang dipergunakan cukup tinggi. Berbeda dengan bidadari-bidadari surga. Novel ini berbalik jauh dengan supernova. Karena, bahasa yang digunakan tidak kata yang tinggi serta dapat di baca oleh seluruh orang. Bahkan bisa menjadikan sebuah nilai tersendiri bagi pembaca dengan sebuah pengorbanan cinta kakak terhadap adiknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar